Alhamdulillah hari ini, 5 Mei 2023 SMAIT Nurul Fikri Boarding School Bogor mengadakan kegiatan perdana setelah ramadhan. Diawali dengan berbagi cerita ramadhan dan lebaran dan berbagi oleh-oleh, waktu yang diperlukan sekitar 2 jam agar 25 orang dapat berbagi cerita dan hikmah. Walaupun terlihat sederhana saya pribadi sangat memaknai hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat bernilai untuk memperkaya perspektif dan juga membangun kedekatan dengan rekan-rekan.

Dengan berbagi hikmah maka ini bagian dari budaya refleksi, yang merupakan implementasi peran guru sebagai seorang guru pembelajar (Buku Sekolah Masa Depan: Peran Guru), sedangkan membangun kedekatan antar anggota team sangat bermanfaat untuk membangun kohesitas antar anggota team, membuat anggota team dapat memiliki perform lebih baik karena tidak segan untuk berbagi persepektif sehingga saling memahami, yang berakibat munculnya performance secara optimal.
Beberapa penelitian yang menunjukkan adanya kaitan antara kedekatan antar anggota tim, soliditas tim, dan keberterimaan terhadap ide-ide dari anggota lain adalah sebagai berikut:
- Teori pengembangan tim Tuckman (1965) mencakup tahap ‘forming’, ‘storming’, ‘norming’, dan ‘performing’. Selama tahap ‘norming’, anggota tim mulai menghargai perbedaan dan menerima ide satu sama lain, yang mengarah ke soliditas tim dan kolaborasi yang lebih baik. (Tuckman, 1965)
- Riset tentang kohesi tim menunjukkan bahwa tim yang memiliki hubungan sosial yang kuat cenderung bekerja lebih efektif dan menerima ide dari anggota lain dengan lebih baik (Carron, Brawley, & Widmeyer, 1998).
- Studi tentang kepercayaan dan komunikasi dalam tim menunjukkan bahwa anggota tim yang percaya satu sama lain lebih mungkin untuk berbagi ide dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (Dirks & Ferrin, 2001).
- Konsep “psychological safety” yang dikembangkan oleh Amy Edmondson (1999) mengacu pada keyakinan bahwa seseorang dapat mengungkapkan pendapat, mengajukan pertanyaan, atau mencoba ide baru tanpa takut dihukum atau ditolak. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat psychological safety yang tinggi dalam tim berkorelasi dengan keberterimaan ide dan inovasi yang lebih baik.
Dalam hal ini, kedekatan antar anggota tim, soliditas tim, dan keberterimaan terhadap ide-ide dari anggota lain memang terkait. Tim yang memiliki hubungan yang baik, kepercayaan, dan psychological safety cenderung lebih menerima ide-ide dari anggota lain dan bekerja lebih efektif dalam mencapai tujuan bersama.
Sejauhmana anda sebagai leaders membangun kedekatan antar anggota team dan sejauhmana anggota team dekat dengan anda sebagai seorang leaders?
Referensi:
- Tuckman, B. W. (1965). Developmental sequence in small groups. Psychological Bulletin, 63(6), 384-399. https://doi.org/10.1037/h0022100
- Carron, A. V., Brawley, L. R., & Widmeyer, W. N. (1998). The measurement of cohesiveness in sport groups. In J. L. Duda (Ed.), Advances in sport and exercise psychology measurement (pp. 213-226). Fitness Information Technology.
- Dirks, K. T., & Ferrin, D. L. (2001). The role of trust in organizational settings. Organization Science, 12(4), 450-467. https://doi.org/10.1287/orsc.12.4.450.10640
- Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350-383. https://doi.org/10.2307/2666999

